Mementaskan Teater

Desain Grafis dan Percetakan
MELAKSANAKAN PEMENTASAN
Tibalah kita pada saat yang ditunggu-tunggu, yaitu puncak dari segala proses panjang nan melelahkan, yakni pementasan teater. Membuat pertunjukan teater adalah suatu proses dari tidak ada menjadi ada. Hal ini memerlukan kerja keras, baik fisik, psikis, maupun finansial. Namun, membuat pertunjukan teater juga sesuatu hal yang menyenangkan.

Perencanaan yang matang dan proses produksi yang mantap telah kita jalani dan itu semua sudah merasuk ke tulang sumsum para penggiat seni teater. Tinggal menunggu eksekusi dari perencanaan dan proses, yakni sebuah pementasan teater.

Banyak hal yang harus diperhatikan dalam eksekusi seni ini, misalnya semua orang yang terlibat dalam pertunjukan ini harus berkonsentrasi penuh, hindari kesalahan sekecil apapun, jangan meleset dari perencanaan dan proses yang telah dilakukan. Setiap bagian harus kompak dalam bekerja sama, hadapi eksekusi ini dengan riang hati agar mencapai hasil terbaik.

Malam eksekusi atau malam pementasan harus diliputi dengan suasana penuh gairah. Keadaan di belakang panggung telah terkoordinasi dengan baik selama perencanaan maupun proses latihan, baik latihan teknis hingga dress rehearsal atau latihan penutup (terakhir), maupun latihan secara lengkap dan menyeluruh sehingga akan mencapai kelancaran tugas dalam produksi.

1. Bidang Produksi Administrasi

Staf produksi banyak bekerja saat proses produksi berlangsung, mereka sudah mencari dana, menyebarkan publikasi, menyiapkan konsumsi, mengurus perizinan, dan lain sebagainya. Namun, masih ada yang harus bekerja sampai pertunjukan usai, misalnya ketika malam pementasan tiba, penonton sudah berbondong-bondong mendatangi tempat pertunjukan, harus ada staf yang mengelola penonton tersebut. Staf tersebut adalah petugas tiket yang menjual tiket lengkap dengan brosur atau buklet pementasan teater yang akan berlangsung atau petugas portir. Petugas portir selalu siap (standby) di depan pintu masuk tempat pertunjukan dan bertugas untuk menyobek atau menandai tiket masuk kemudian mempersilakan penonton. Selain itu, ada juga petugas yang mengatur tempat duduk penonton sesuai tiket atau undangan yang dipegangnya.

Jika pertunjukan dimulai pukul 8, pukul 07.45 pintu tempat pertunjukan telah mulai dibuka dan penonton dipersilakan untuk masuk. Pukul 07.55, pembawa acara mulai bekerja menyampaikan segala sesuatu yang berhubungan dengan pertunjukan. Pembawa acara akan membacakan sinopsis, menyebutkan nama sutradara, pemain, juga semua kru yang terlibat di dalamnya. Dia juga akan membacakan tata tertib yang menjadi panutan selama pertunjukan berlangsung, misalnya penonton tidak diperkenankan memotret pertunjukan dengan mempergunakan lampu blitz atau flash, penonton diharap menonaktifkan telepon genggam, dan seterusnya.

2.  Bidang Artistik

Saat pelaksanaan pementasan, sang sutradara seolah tidak lagi punya wewenang apapun terhadap pertunjukan ini, dia tidak lagi bisa menghentikan adegan, memberi pengarahan, dan lain sebagainya. la hanya duduk manis sebagai penonton. Sosok yang banyak berperan secara teknis dalam pementasan adalah manajer panggung.

Manajer panggung adalah pimpinan pentas, yaitu penguasa tunggal di atas pentas selama pertunjukan berlangsung. Manajer panggung bertanggung jawab penuh terhadap berhasil tidaknya suatu pementasan.

Perhatian manajer panggung harus terfokus pada materi pergelaran. Dengan menguasai materi pergelaran dan konsentrasi penuh, maka keberhasilan akan dapat dicapai dengan baik. Untuk itu, seorang pimpinan pentas perlu melaksanakan beberapa hal yang menyangkut pengelolaan pentas, yakni sebagai berikut.
a. Seorang pemimpin pentas harus menguasai materi pergelaran.
b. Mengikuti tahap kegiatan pertunjukan yang terdiri atas:
•    run-trough,
•    latihan teknik,
•    dress rehearsal (geladi kotor dan geladi bersih), dan
•    pelaksanaan pementasan.
c. Menguasai  sistem penyajian atau pementasan.
d. Menguasai atau memahami aspek sarana pertunjukan terutama menyangkut kebutuhan atau sarana pentas.

e. Mengerti tentang istilah-istilah pentas.
Dalam tugasnya, manajer panggung dibantu oleh kerabat kerja pentas (stage crew), antara lain:

•    penata panggung (skenografer),
•    penanggung jawab properti,
•    penata rias dan busana,
•    penata cahaya (light designer atau lightingman),
•    penata suara (sound enginering atau soundman), dan
•    beberapa petugas pelaksana.

a. Tata panggung

Tata panggung disebut juga dengan istilah scenery (tata dekorasi). Gambaran tempat kejadian lakon diwujudkan oleh tata panggung dalam pementasan. Tidak hanya sekadar dekorasi (hiasan) semata, tetapi segala tata letak perabot atau peranti yang akan digunakan oleh aktor disediakan oleh penata panggung atau skenografer.

Penataan panggung disesuaikan dengan tuntutan cerita, kehendak artistik sutradara, dan panggung tempat pementasan dilaksanakan. Scenery harus bisa menggambarkan ruang dan waktu yang berlaku di atas pentas, atau dengan kata lain dapat menjelaskan tempat dan zaman atau era di mana sebuah cerita atau peristiwa terjadi. Pembuatan scenery bergantung pada setting cerita yang ada di lakon tersebut. Sebelum melaksanakan penataan panggung, seorang penata panggung perlu mempelajari panggung pertunjukan.

Di Indonesia dikenal dua jenis panggung, yakni arena dan proscenium.
  1. Panggung arena cenderung memiliki arah hadap penonton dari segala arah.
  2. Proscenium hanya memiliki satu arah hadap bagi penonton. 
Jenis scenery:
  1. Realistis, menggambarkan kenyataan hidup sehari-hari.
  2. Sugestif-realistis, yakni menampilkan gambaran kenyataan hidup sehari-hari namun tidak digambarkan secara lengkap keseluruhan, hanya diambil kesan-kesan pokoknya saja sebagai simbol.
  3. Nonrealistis, tergantung pada gagasan senimannya.
  4. Formal, hanya memberikan tempat pementasan, tidak memberikan gambaran wujud dari latar belakang.
Properti bisa memiliki nilai-nilai khusus, misalnya memperkuat karakter atau watak tokoh, dan sebagainya. Properti terbagi menjadi dua, yaitu:
  • hand property, peralatan yang dipegang langsung oleh pemain. Contohnya pedang dan keris ketika perang.
  • set (floor) property, peralatan yang berada di sekitar atau yang melingkupi daerah permainan. Contohnya meja, kursi, tempat tidur, dan jam dinding.

Tata busana atau kostum
Tata busana atau kostum, sering disebut sebagai scenery yang disandang oleh pemain. Tata busana memiliki peranan yang vital dalam komposisi sebuah panggung. Kesan visualisasi penampilan dari seluruh adegan ditemukan dalam kostum. Tata busana adalah seni pakaian dan segala perlengkapan yang menyertai untuk menggambarkan tokoh. Tata busana termasuk segala aksesori seperti topi, sepatu, syal, kalung, gelang, dan segala unsur yang melekat pada pakaian. Tata busana dapat dibuat berdasarkan budaya atau zaman tertentu. Dalam masa kini, beragam aliran teater bermunculan. Masing-masing memiliki konsepnya tersendiri dan lakon tidak harus berlatar zaman ketika lakon itu dibuat. Semua terserah pada gagasan seniman.

Busana pun mengikuti konsep tersebut. Tata busana tidak lagi terpaku pada zaman, tetapi lebih pada konsep yang melatarbelakangi penciptaan teater. Busana yang dipakai manusia beraneka ragam bentuk dan fungsinya.

Fungsi busana dalam kehidupan sehari-hari untuk melindungi tubuh, mencitrakan kesopanan, dan memenuhi hasrat manusia akan keindahan.

Tata rias

Tata rias secara umum dapat diartikan sebagai seni mengubah penampilan wajah menjadi lebih sempurna. Tata rias dalam teater mempunyai arti lebih spesifik, yaitu seni mengubah wajah untuk menggambarkan karakter tokoh. Tata rias dalam teater bermula dari pemakaian kedok atau topeng untuk menggambarkan karakter tokoh. Tokoh dalam teater memiliki karakter berbeda-beda. Penampilan tokoh yang berbeda-beda membutuhkan penampilan yang sesuai dengan karakternya. Tata rias merupakan salah satu cara menampilkan karakter tokoh tersebut.

Jenis tata rias dalam teater adalah sebagai berikut:
  1. Tata rias sehari-hari untuk menyempurnakan penampilan wajah.
  2. Tata rias karakter untuk menggambarkan karakter tokoh.
  3. Tata rias fantasi untuk menambah aspek dramatik.

Tata cahaya (lampu)
Cahaya adalah unsur tata artistik yang paling penting dalam pertunjukan teater. Tanpa adanya cahaya, penonton tidak akan dapat menyaksikan apa-apa. Dalam pertunjukan era kuno, manusia hanya menggunakan cahaya matahari, bulan, atau api sebagai penerangan.

Tata cahaya yang hadir di atas panggung dan menyinari semua objek, sesungguhnya menghadirkan kemungkinan bagi sutradara, aktor, dan penonton untuk saling melihat dan berkomunikasi. Semua objek yang disinari memberikan gambaran yang jelas kepada penonton tentang segala sesuatu yang akan dikomunikasikan.

Lampu memberi penerangan pada pemain dan setiap objek yang ada di atas panggung. Istilah penerangan dalam tata cahaya panggung bukan hanya sekadar memberi efek terang sehingga bisa dilihat, tetapi memberi penyinaran bagian tertentu dengan intensitas tertentu sesuai kebutuhan dramatik. Terang dan remang memiliki nilai yang sama di atas pentas, sesuai dengan tuntutan cerita. Perpindahan adegan juga bisa dilakukan dengan perpindahan terang-remangnya cahaya, bisa dengan fade-out (cahaya meredup pelan) atau justru malah blackout (cahaya gelap secara mendadak)

Penempatan cahaya yang tepat akan menciptakan dimensi yang baik dan mampu mengungkapkan bentuk dari objek. Hal ini perlu didukung dengan adanya lampu latar belakang (.background light), lampu belakang (backlight), dan lampu samping (side-light) di luar lampu utama, yakni lampu dari depan panggung (front light).

Tata cahaya dapat dimanfaatkan untuk menentukan objek dan area yang hendak disinari. Jika dalam film dan televisi sutradara dapat memilih adegan menggunakan kamera, maka sutradara panggung melakukannya dengan cahaya. Dalam teater, penonton secara normal dapat melihat seluruh area panggung. Untuk memberikan fokus perhatian pada area atau aksi tertentu, sutradara memanfaatkan cahaya. Pemilihan ini tidak hanya berpengaruh bagi perhatian penonton, tetapi juga bagi para aktor di atas pentas serta keindahan tata panggung yang dihadirkan.

Tata cahaya mampu menghadirkan suasana yang dikehendaki oleh lakon. Sejak ditemukannya teknologi pencahayaan panggung, efek lampu dapat diciptakan untuk menirukan cahaya bulan dan matahari pada waktu-waktu tertentu. Tata cahaya mampu menciptakan suasana, membuat gambaran wajar dari suatu waktu, dan mampu membuat cahaya lampu tiruan.

f. Tata suara

Eksistensi seni teater bersifat auditif visual, yaitu bisa didengar dan bisa dilihat. Dalam hal ini, drama radio memiliki kekhususannya karena hanya auditif saja.

Kerja tata suara mencakup efek bunyi, musik, dan peralatan tata suara (soundsystem). Efek bunyi dan musik yang membawakan suasana lakon telah lahir bersama dengan kelahiran teater itu sendiri.

Apabila kita bertugas mengiringi sebuah lakon, kita harus memperhatikan tiga masalah yang merupakan bahan-bahan yang harus digarap, yaitu dialog, efek bunyi, dan musik. Ketiga-tiganya dapat kita pergunakan bersama-sama, kadang-kadang hanya dua yang digunakan bersama-sama, atau hanya satu saja. Untuk itu, kita harus memperhatikan agar volume ketiga bahan tersebut bisa diatur dengan tepat, artinya volume mana yang harus dikeraskan atau dibuat perlahan. Di sini volume berfungsi seperti spotlight, yaitu apa yang diutamakan pada adegan mendapat sorotan lebih dan sebaliknya.

Setiap efek bunyi membantu penonton lebih membayangkan apa    yang terjadi di dalam lakon. Oleh karena itu, penggunaan efek ini harus sesuai dengan tujuannya.

Contoh beberapa macam efek bunyi dan cara membuatnya.
  • Bunyi halilintar: ambillah seng, lalu jatuhkan atau pukuliah sehingga berbunyi seperti halilintar.
  • Bunyi tembakan: pecahkan sebuah balon karet atau gunakan barang keras lainnya yang dipukul. Dengarkan lewat mikrofon, pilih mana yang mirip dengan bunyi tembakan.
  • Bunyi kebakaran dan hujan: kertas selofan digosok-gosok atau diremas-remas di dekat mikrofon.
Musik mempunyai peranan penting dalam teater. Dengan diperdengarkannya musik, penonton akan bertambah daya dan pengaruh imajinasinya. Musik yang baik dan tepat bisa membantu aktor membawakan warna dan emosi perannya dalam adegan atau sebagai ilustrasi. Dalam adegan, sutradara hendaklah memilih momen-momen saat musik ditiadakan karena dalam naskah dramatik, ada jenis adegan yang sebaiknya sepi dari segala macam efek bunyi. Musik juga dapat dipakai sebagai awal dan penutup adegan, sebagai jembatan antara adegan yang satu dengan yang lainnya.
EVALUASI PEMENTASAN

Setelah pementasan, tentu kita akan mengadakan evaluasi terhadap kinerja kita masing-masing. Evaluasi bisa kita lakukan dengan minimal tiga cara, yakni sebagai berikut.
  1. Evaluasi diri, setiap orang menilai dirinya sendiri terhadap segala sesuatu yang telah dilakukannya, bisa berupa kekecewaannya ataupun kepuasannya saat berpentas.
  2. Evaluasi teman, setiap orang berhak mengevaluasi temannya, kebesaran hati dan pikiran positif sangat diperlukan dalam evaluasi ini. Kita harus berani menerima kritik dan masukan dari teman kita.
  3. Evaluasi dari pembimbing, hal ini merupakan puncak penilaian terhadap kerja kita. Seorang pembimbing dalam mengevaluasi tentu memiliki tujuan. Tujuannya adalah:
  • Memberitahukan tentang kelebihan dan kekurangan saat pelaksanaan pementasan.
  • Memberikan umpan balik untuk kebaikan dan penyempurnaan proses dan pelaksanaan pementasan berikutnya.
  • Saling mengerti, memahami, dan menghargai kerja tim.
  • Mengakrabkan dan memberi semangat, bahwa apa pun bentuknya, hasil akhir dari pertunjukan adalah hasil dari proses kerja sama tim, bukan hasil kerja individu.

0 Response to " Mementaskan Teater "

Post a Comment

.:[Close][Klik 2x]:.
 Kekuatan Berfikir Positif 
Bos Anda Tidak Akan Menjadikan Anda Kaya